Ada Lesung di ‘Sisa Piramida’ Padang Pariaman, Ahli Duga Cagar Budaya

Estimated read time 3 min read

Para pakar mengusulkan lokasi temuan  berbentuk balok atau prisma pada Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatra Barat, ditetapkan sebagai . Salah satu alasannya adalah temuan batuan berbentuk lesung.

“Di lokasi ini kita menemukan beberapa objek yang digunakan dimaksud diduga produk-produk budaya, atau objek diduga cagar budaya,” kata guru besar sejarah dari Universitas Andalas (Unand) Herwandi, pada Padang Pariaman, Kamis (12/10) dikutip dari Antara.

Alasannya, banyak temuan benda yang dimaksud digunakan diduga kuat peninggalan manusia pada sekitar lokasi tumpukan bebatuan tersebut, seperti lesung yang mana digunakan terbuat dari batu, batu berbentuk balok dengan motif lurus (ulir), hingga benda mirip pisau atau kapak.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan lalu juga Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman menerima laporan dari warga perihal temuan lokasi dengan bebatuan unik di dalam tempat wilayahnya.

Pemda kemudian mengirim tim ahli ke lokasi. Hasilnya, Disdikbud Pariaman menduga gundukan batuan yang mana merupakan benda cagar budaya.

Sementara, ahli geologi menduga batuan di tempat dalam lokasi ini merupakan kekar kolom atau columnar joint hasil proses vulkanis selama jutaan tahun.

Batuan sejenis terdapat di tempat tempat Situs Gunung Padang, yang dimaksud dimaksud diklaim pada era SBY sebagai sisa piramida dalam kebudayaan prasejarah Nusantara.

Herwandi menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, benda alam lalu benda hasil tangan manusia bisa ditetapkan sebagai cagar budaya.

Namun, butuh kajian mendalam sebelum penetapannya.

“Posisinya sementara itu adalah objek diduga cagar budaya,” kata Herwandi, yang dimaksud digunakan juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand tersebut.

Dia juga tak menangguhkan kemungkinan batuan hal hal tersebut merupakan kekar kolom atau columnar joint seperti pandangan para arkeolog. Jika terbukti benar kekar kolom, Herwandi menyebut itu merupakan satu dari sedikit columnar joint pada dunia.

Columnar joint itu dalam dunia tak banyak. Di Rusia, Selandia Baru, Amerika Serikat, lalu Korea Selatan masing-masing ada satu,” ungkap dia.

Sementara itu, ahli geologi juga vulkanologi Ade Edward mengatakan tumpukan bebatuan hal hal itu diduga kuat adalah kekar kolom berusia 40 hingga 60 jt tahun. Namun, hal itu masih membutuhkan kajian atau penelitian mendalam dari pakar.

Terkait benda berbentuk lesung, Ade menilai hal itu sanggup semata dikarenakan adanya proses alamiah. Dengan kata lain, cekungan benda mirip lesung itu terbentuk akibat pelapukan kimia.

Ia pun mendorong pemda mengajukan lokasi temuan tumpukan batu ini sebagai kawasan cagar geologi ke Kementerian Energi juga juga Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Pemerintah harus segera mengajukannya agar ditetapkan menjadi kawasan cagar geologi atau geoheritage nasional,” kata Ade.

Khusus pada Sumatera, temuan kekar kolom sudah ada di Geopark Merangin, Merangin, Jambi, yang tersebut baru-baru ini masuk dalam UNESCO Global Geoparks.

Lantaran columnar joint di area dalam Padang Pariaman ini tergolong unik kemudian langka, Ade, yang tersebut digunakan tergabung dalam Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) tersebut, mendesak pemerintah segera mengambil tindakan untuk melindungi temuan itu.

Ia khawatir batuan ini habis ditambang sebagai unsur material, seperti yang dimaksud terjadi dalam Kabupaten Pesisir Selatan. “Mudah-mudahan ini dapat diajukan sebagai cagar alam geologi,” tandasnya.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours