Jokowi: Harga Pertamax-Pertalite Bisa Naik karena Perang Israel-Hamas

Estimated read time 2 min read

Presiden  menyebut ada kemungkinan tarif material bakar () akan mengalami kenaikan imbas perang .

Hal itu disampaikan Jokowi dalam pembukaan Rakernas Projo di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (14/10). 

Jokowi mengatakan kemungkinan akan kelangkaan bahan energi akan terjadi seperti dampak perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan kelangkaan material pangan hingga memproduksi nilai melonjak.

“Harga pangan itu menjadi naik gara-gara perang dalam area Ukraina. Ini nanti biaya energi dapat naik oleh sebab itu perang Palestina-Israel, biaya energi itu artinya bensin, Pertamax, Pertalite, saya bukan ingin menakut-nakuti tetapi mampu kejadian lantaran kalau perang tidak ada ada selesai pasti tarif BBM global pasti akan naik,” kata Jokowi.

Jokowi juga menyoroti permasalahan perubahan iklim yang digunakan dimaksud akan berdampak pada dunia. Cuaca panas yang mana dimaksud saat ini terjadi juga menjadi penghambat produksi serta hasil pangan. Juga perubahan iklim menciptakan beberapa pulau pada dunia tenggelam.

“Belum ditambah lagi perubahan iklim itu sudah nyata kita hadapi lalu ada dalam depan kita, kemarin baru 3-4 bulan panas sangat menyengat di tempat area seluruh dunia sebagian besar kena, termasuk kita kena El-Nino, bukan cuma panas tetapi juga mempengaruhi produksi pangan kita, pasti akan mempengaruhi hasil produksi pangan kita. Pada Selasa serta Rabu saya datang ke KTT AIS Forum dalam Bali, 34 Negara hadir, Negara pulau juga juga Negara kepulauan apa yang digunakan mana dibicarakan dalam area situ, banyak sudah pulau dia tenggelam lantaran perubahan iklim meskipun ini negara dengan penduduk ada yang dimaksud digunakan 10.000 ada yang digunakan ratusan ribu tetapi dampaknya sudah merekan rasakan langsung,” ungkapnya.

Ia menyebut tantangan Indonesia ke depan akan lebih tinggi banyak berat dari sebelumnya untuk itu diperlukan pemimpin yang hal tersebut mempunyai keberanian untuk mengambil risiko lalu kuat menghadapi tekanan negara-negara besar.

“Oleh sebab itu diperlukan pemimpin yang mana mempunyai visi taktis yang mana hal itu jelas, miliki keberanian, berani mengambil resiko, punya nyali berani menghadapi tekanan negara-negara besar, ” ungkapnya disambut riuh relawan yang digunakan digunakan meneriakkan ‘Prabowo Presiden’.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours