Fakta Ilmiah Air Galon BPA, Jangan Sampai Tertipu!

Estimated read time 3 min read

Jakarta – Unggahan TikTok dr Richard Lee kembali menyebabkan heboh, setelah menyebutkan kemasan merek salah satu produsen air minum pada dalam Indonesia masih menggunakan unsur Bisphenol A atau BPA.

Dalam unggahannya itu, influencer di tempat area sosial media hal itu mengungkapkan bahwa substansi yang mana digunakan digunakan perusahaan air minum itu bahkan sudah pernah dilarang pada Eropa sebagai galon untuk pengemas air minum.

“Dan sangat mengejutkan sekali, merek terbesar di tempat dalam Indonesia masih menggunakan polikarbonat yang mana mana pada dalamnya masih ada cemaran BPA-nya,” kata dia dalam akun TikTok @drrichardlee dikutip, Sabtu (14/10/2023).

Lantas apakah air yang digunakan digunakan tercemar BPA berbahaya? Berikut ini penjelasan dari beberapa ahli.

Apa itu BPA?

Sebelum memahami bahaya atau tidaknya cemaran BPA pada air minum, penting untuk memahami apa itu BPA.

Dilansir Mayo Clinic, BPA adalah material kimia industri yang digunakan mana digunakan untuk menghasilkan plastik polikarbonat juga resin epoksi sejak 1950 silam. Umumnya, plastik polikarbonat kemudian resin epoksi digunakan sebagai wadah makanan, botol minum, botol air plastik, hingga barang kebersihan.

Dalam studi yang mana digunakan dipublikasikan Cancer Research UK pada 2021 menemukan bahwa BPA terbukti tak menyebabkan kanker. Sebab, kadar BPA yang dimaksud terdapat dalam wadah atau kemasan plastik masih tergolong sangat rendah sehingga masih aman jika masuk ke dalam tubuh manusia.

Kendati begitu, dokter spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, mengatakan bahwa BPA tetap meningkatkan risiko hambatan kesehatan serius sebab bersifat beracun juga berbahaya bila masuk ke dalam tubuh.

“Yang jadi masalah, BPA ini material yang tersebut mana beracun kemudian mampu sekadar mencemari makanan yang digunakan dimaksud dibungkus atau cairan yang tersebut digunakan ditampung dalam plastik BPA,” ujar dr. Aru kepada CNBC Indonesia, Senin (2/10/2023).

“Jika kita terpapar oleh plastik BPA, ada sebagian kesulitan kesehatan bisa saja jadi muncul, seperti gangguan berat badan pada bayi, gangguan hormonal, kanker, sindrom ovarium polikistik, sampai kelahiran prematur,” jelas dr. Aru.

Terkait hasil penelitian yang tersebut mana berbeda kesulitan dampak BPA terhadap tubuh, dr. Aru menyarankan warga untuk menghindari penyelenggaraan bahan-bahan plastik, terutama yang dimaksud dimaksud mengandung BPA. Terlebih, beberapa total negara, seperti Prancis; Amerika Serikat; Denmark; Malaysia; serta Australia telah dilakukan dijalani melarang pengaplikasian BPA akibat berdampak buruk bagi kesehatan.

“Sebaiknya hindari pemakaian BPA. Sepanjang masih ada pendapat-pendapat yang mana yang saling bertentangan, kita ambil yang mana mana aman saja,” tegas dr. Aru.

“Dan untuk itu dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk menegakkan apakah [penggunaan BPA] boleh atau tidaklah berdasarkan keilmuan yang yang disebut ada,” lanjutnya.


You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours